Karawang – Khanza Film Entertainment resmi merilis film horor terbarunya berjudul “Danyang Wingit Jumat Kliwon”, sebuah karya yang menggabungkan unsur okultisme dengan tradisi pedalangan Jawa. Film tersebut digarap oleh Agus Riyanto yang bertindak sebagai sutradara sekaligus produser, dengan naskah ditulis oleh Dirmawan Hatta.
Berbeda dari film horor konvensional, “Danyang Wingit Jumat Kliwon”menonjolkan nuansa mistik, ritual kuno, pusaka, hingga mitologi Jawa yang kuat. Ceritanya menggambarkan ambisi seorang dalang dalam mencari keabadian melalui ritual terlarang.
Film ini berkisah tentang Ki Mangun Suroto yang diperankan oleh aktor senior Whani Darmawan, seorang dalang kharismatik yang mendalami ilmu hitam demi memperkaya diri sekaligus menantang batas kematian.
Pada 2021, seorang wanita bernama Citra yang diperankan Celine Evangelista bergabung sebagai sinden baru di padepokan Ki Mangun. Ia bekerja demi memenuhi kebutuhan pengobatan adiknya, Dewi Aisyah Kanza. Tanpa mengetahui apa yang menantinya, Citra ternyata telah ditetapkan sebagai tumbal terakhir dalam ritual keabadian yang digelar pada malam Jumat Kliwon bertepatan dengan fenomena Gerhana Bulan Merah.
Kecurigaan mulai muncul dari Bara, penjaga padepokan yang diperankan Fajar Nugra, yang kemudian berusaha membongkar rencana Ki Mangun dan menyelamatkan Citra. Upayanya memicu rangkaian konflik yang membawa keduanya berpacu dengan waktu menuju malam ritual.
Agus Riyanto mengungkapkan bahwa proses produksi film ini berlangsung cukup panjang. Sebelum memasuki tahap syuting, tim melakukan riset konsep selama satu tahun, kemudian enam bulan untuk menentukan karakter dan pemain, lebih dari tiga minggu untuk proses pengambilan gambar, serta sekitar satu tahun untuk scoring dan mixing.
Agus turut menyinggung perubahan penampilan Celine Evangelista yang kini berhijab dan sempat memicu perbincangan publik. Menurutnya, pemilihan pemain dilakukan melalui proses yang ketat dan setiap karakter sudah dibayangkan sejak awal.
Ia menambahkan, cerita film ini terinspirasi dari mitos Jawa, termasuk legenda wayang kulit yang konon dibuat dari kulit manusia pada ritual tertentu. Mitos tersebut banyak beredar di wilayah sekitar lereng Gunung Merbabu.
“Cerita itu sering diangkat berbagai media. Namun sebagai mitos, kebenarannya tetap berada di ranah abu-abu,” ujarnya, Minggu 16 November 2025 di Resinda Park Mall.
Agus menegaskan bahwa film ini tidak hanya bertujuan menyajikan hiburan, tetapi juga mengedukasi generasi muda mengenai budaya Jawa, terutama terkait tradisi wayang kulit.
“Banyak anak muda yang belum memahami nilai historis dan filosofi wayang. Melalui film ini, kami ingin mengenalkan kembali warisan budaya tersebut,” kata Agus.
Salah satu pemain, Putri Maya Rumanti, mengaku mengalami tantangan besar dalam memerankan tokoh sinden. Ia harus mempelajari teknik vokal nyinden dengan cengkok Jawa, penggunaan bahasa Jawa halus, hingga memahami karakter budaya yang lekat dengan dunia pedalangan. Putri menyebut salah satu adegan tersulit bahkan harus dilakukan pada pukul 03.00 WIB dan hanya boleh diambil sekali tanpa pengulangan.
“Ini pengalaman pertama saya berakting dan langsung memerankan sinden Jawa. Latihan cengkok dan karakter butuh proses panjang,” tuturnya.
Meski mengusung genre horor, film ini juga menyertakan unsur drama dan psikologis mengenai besarnya harga sebuah ambisi. Tokoh antagonis digambarkan kompleks, sementara karakter utama dipaksa berjuang dalam tekanan dan teror. Beberapa adegan komedi dan romansa turut disisipkan untuk memberikan warna tanpa mengurangi intensitas horor.
Makeup horor dalam film ini dibuat senatural mungkin. Menurut Putri Maya, kengerian justru hadir dari sisi manusianya. “Yang paling menakutkan itu manusia, bukan hantunya,” katanya.
Aktris Celine Evangelista turut merasakan tantangan serupa. Ia berlatih nyinden selama lima hingga enam bulan untuk mendalami peran Citra.
“Belajar menjadi sinden itu tidak mudah. Tapi saya lakukan demi mengangkat budaya Jawa,” ujarnya.
Ia juga menanggapi persoalan mengenai peran yang dibawanya saat itu sebelum dirinya menggunakan hijab, dirinya menerima lapang dada dan tidak ingin merasa egois hanya untuk keinginan diri sendiri karena banyak yang bergantung pada proyek ini.
“Karena proyek ini bukan hanya satu kepala tapi banyak sekali kepala yang bergantung pada proyek ini jadi kita juga gabisa egois memikirkan diri sendiri, meskipun yang menentukan juga bukan saya disini jadi mohon doanya aja ya”, tambahnya.
Dengan perpaduan mitos Jawa, ritual kuno, dan drama psikologis, “Danyang Wingit Jumat Kliwon” hadir sebagai film horor lokal yang menawarkan pengalaman berbeda dan layak dinantikan penonton.(red/fj)
Fakta Jabar Cerdas Mengupas Lugas Mengulas Selalu Menjadi Referensi