Punya Pasangan Bikin Berat Badan Naik

FAKTAJABAR.CO.ID – Status lajang kerap jadi momok. Apalagi jika Anda dikelilingi oleh teman-teman yang semuanya berpasangan.

Namun, ada hikmah di balik status lajang. Pasalnya menurut penelitian, orang-orang yang menjalani hubungan alias punya pasangan, berat badannya cenderung naik.

Kesimpulan ini dicapai para peneliti di Central Queensland University di Australia. Mereka mengamati data dari lebih dari 15 ribu orang selama 10 tahun.

Hasilnya, mereka menemukan rata-rata orang yang berpasangan memiliki berat rata-rata hampir enam kilogram lebih berat dari mereka yang berstatus jomlo.

Bukan hanya itu berat badan mereka juga terus naik. Rata-rata sekitar 1,8 kilogram per tahun.

Selama ini ada ungkapan orang menggemuk setelah punya pasangan atau menikah karena mereka bahagia? Lebih tepatnya, karena rasa nyaman. Setidaknya menurut penelitian ini.

Setelah menjalin hubungan, banyak orang tidak merasakan tekanan yang sama saat mereka masih lajang. Maksudnya dalam hal menjaga penampilan dan berat badan.

“Ketika pasangan merasa tidak lagi perlu terlihat menarik dan langsing untuk menarik pasangan, mereka mungkin merasa lebih nyaman saat makan lebih banyak, atau mengonsumsi makanan sarat lemak dan gula,” kata penulis utama studi Stephanie Schoeppe.

Hal ini dikonfirmasi beberapa pakar yang tidak terlibat dalam penelitian.

“Saya pikir penjelasan yang jelas adalah Anda tidak lagi lajang dan mungkin menjaga berat badan jadi hal yang kurang penting,” kata Catherine Hankey, profesor di Glasgow University. Hankey yang pernah meneliti penambahan berat badan pada pengantin baru menambahkan, “Mungkin saja pasangan menjadikan makanan dan alkohol sebagai bagian dari waktu luang yang mereka habiskan bersama.”

Armando “Dr. Mondo” Gonzalez, terapis berlisensi yang berspesialisasi dalam penurunan berat badan dan obesitas setuju dengan penjelasan ini.

“Banyak orang termotivasi untuk menjadi sehat dan terlihat lebih baik untuk mendapatkan pasangan dan berakhir menjalani hubungan,” kata Gonzalez yang melatih kontestan acara The Biggest Loser. Setelah dapat pasangan, banyak motivasi untuk terlihat bugar kemudian menghilang.

Para peneliti juga mempertimbangkan fakta, orang-orang yang punya pasangan cenderung makan dalam porsi lebih besar saat makan bersama keluarga, dibandingkan ketika makan sendirian.

“Meskipun mereka mungkin mengonsumsi makanan yang lebih sehat seperti buah-buahan, sayuran, dan lebih sedikit makan masakan cepat saji, orang yang makan bersama sering mengonsumsi porsi yang lebih besar yang jumlah kalorinya lebih tinggi daripada jika mereka makan sendiri. Alhasil terjadi peningkatan asupan energi,” papar Schoeppe.

Menurut peneliti, pasangan terutama yang tinggal bersama, merasa terdorong untuk tak pergi ke mana-mana, bersantai bersama sambil minum alkohol. Dua kebiasaan yang bisa dengan mudah membuat jarum timbangan terus bergerak ke kanan.

Ada sejumlah faktor yang tidak dipertimbangkan peneliti dalam survei ini. Termasuk di dalamnya kualitas hubungan pasangan yang diamati.

Padahal, pasangan yang bahagia cenderung saling bantu dalam kondisi stres. Bukannya malah membuat satu sama lain semakin stres.

Perlu diketahui, naiknya kadar hormon kortisol–hormon stres–dapat memicu naiknya berat badan. Jadi jika kualitas hubungan buruk, berat badan pun terancam bertambah.

Bagaimanapun, perlu dicatat ada sejumlah penelitian lain yang membahas pertanyaan lebih luas soal kesehatan orang berpasangan dibandingkan dengan para lajang. Hasil penelitian-penelitian tersebut tidak selalu konsisten.

Misalnya, banyak penelitian telah mencatat, pasangan cenderung makan makanan yang lebih sehat, lebih jarang merokok, dan mengonsumsi lebih sedikit alkohol dibandingkan dengan para lajang.

Bagaimanapun, penelitian lain juga mencatat bahwa hubungan dan kohabitasi dapat berpotensi mendorong perilaku tidak sehat. Karena pasangan sering punya kebiasaan seperti makan, menonton TV, dan minum alkohol bersama.”

Dengan pengecualian studi pada 2013, beberapa periset lain telah menyelisik pertanyaan yang terkait secara khusus dengan tingkat kepuasan dalam pernikahan yang berhubungan dengan kenaikan berat badan.

Tinjauan tahun 2001 menyoroti berbagai hal yang mengaitkan kebahagiaan perkawinan dan kesehatan. Faktor-faktor tersebut mempersulit peneliti untuk membuat pernyataan tentang kebahagiaan perkawinan dan kenaikan berat badan, meskipun ada bukti yang meyakinkan bahwa fenomena ini mungkin benar adanya. (bg)

Sumber: beritagar.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wakili Jawa Barat di Sail Nias Expo 2019 Sumut, Bumdes Bengle Sejahtera Pamerkan Budidaya Maggot dan Tepung

KARAWANG – Sejumlah produk unggulan Badan Usaha Milik Desa ( BUMDes) Bengle Sejahtera yang sempat menjadi ...