Menjelang Pencoblosan Pemilu, Warga Kersamenak Diberi Uang Rp25.000

Salah satu warga tujuka stiker oknum caleg yang diduga bagikan uang cendol

GARUT – Menjelang pencoblosan untuk Pemilihan Presiden, Wakil Presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD kabupaten serta DPD tanggal 17 April 2019 yang lalu Kp Cirengit RT 02 RW 01, Desa Kersamenak, Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut diduga menjadi salah satu tempat terjadinya dugaan praktek tindak pidana Money Politik.

Salah satu caleg yang diduga melakukan praktek money politik tersebut diantaranya oknum Caleg dari Partai Gerindra No 2. Disebut-sebut sejumlah pihak uang praktek money politik diberikan kepada masyarakat dengan nilai bervariasi Rp 25.000 dan Rp 30.000.

Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, Hari Rabu, 24 April 2019 media ini melakukan investigasi ke lokasi terjadinya dugaan money politik. Media pun berhasil menemui Ketua RT 02, Desa Kersamenak, Johan Juhana.

Kemudian pria inipun membawa media ke salah satu warga yang dijadikan sasaran oleh salah satu oknum pembagian uang money politik, tentu demi meraup suara sang caleg yang dibantu oknum pembagi uang. Johan Juhana pun mengaku sudah mendengar dugaan praktek money politik di wilayahnya. Hanya saja dirinya tidak mengetahui kejadian sebenarnya secara pasti.

Ketua RT Johan Juhana

“Memang ada kabar soal dugaan itu (money politik,red) di wilayah RT kami, tapi saya tidak tahu karena saya ada di TPS. Untuk kasus di RT saya salah satu warga yang sudah lanjut usia tidak mengerti soal politik. Ketika ada yang memberi yang, uang tersebut mereka ambil,” katanya.

Ditempat yang sama, salah satu warga bernama Iya (60) kepada media mengaku mendapat uang sebesar Rp 25.000 dari warga tetangga sekampungnya. “Muhun abdi dipasihan artos ku Ening tipalih kaler. Masihan artosna Rp 25.000, ku abdi ditampi da peryogi. Saurna artos cendol. (Ia saya dikasih uang oleh Teh Ening. Memberinya uang Rp 25.000. Uang itu saya terima, karena saya butuh. Katanya uang cendol,” ujar Iya.

Kondisi Ibu Iya bisa dikategorikan sebagai orang kurang mampu. Dirinya bekerja serabutan dengan penghasilan tidak tetap, tanpa ada bantuan yang jelas dari pemerintah setempat. Diusianya yang sudah senja, dia seorang diri harus merawat suaminya yang sudah sakit sejak 10 tahun lamanya. Sehingga ketika ada pihak yang memberinya uang, maka diapun mengambilnya karena memang membutuhkannya.

Ketika ditanyakan apa saja yang disampaikan Ening selaku pemberi uang terhadap dirinya dan kapan pemberian uang itu dilakukan Ening, Iya mengaku uang tersebut dia terima satu hari sebelum pencoblosan atau pada masa tenang.

“Bi Iya kedah kadieu nyolok teh, ieu artos cendolna. Masihkena pienjingena nyolok, dinten Salasa panginten sonten. (Bi Iya harus kesini nyoblos teh, ini uang cendolnya. Ngasihnya sehari sebelum pencoblosan. Selasa sore,red),” ungkap Iya.

Ketika wartawan kembali menanyakan apa saja yang disampaikan Ening selaku pemberi uang, Iya mengaku Ening menyuruhnya untuk memilih salah satu Caleg dari Partai Gerindra, AR.

“Saurna abdi ke kedah nyoblos ka pak AR panginten da masihan kartu nami,” papar Ia sambil menunjukan salah satu stiker berisi foto, nomor urut dan partai, AR No.2 dari Partai Gerindra.

Sementara itu, Ening yang disebut-sebut memberikan uang kepada warga saat ditemui dirumahnya sedang tidak ada. Namun media ini berhasil mewancarai Dudi (64) suami dari Ibu Ening.

Warga Kp Cirengit RT 06 RW 01, Desa kersamenak, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut ini mengaku bahwa Ening merupakan istrinya. Namun dalam kesempatan tersebut Ening tidak ada di rumah.

Menurut Dudi dirinya tidak jadi memberi uang kepada masyarakat dan uang untuk warga yang dia pegang diberikan lagi kepada warga Pasir Desa Cinta Karya, Kecamatan Samarang, Ujang Rusmana yang notabene masih kerabatnya.

Menurut pengakuan Dudi, pihak-pihak yang menawarkan uang sesungguhnya banyak sekali, tapi ke wilayahnya tidak masuk, karena sudah penuh. Tawaran terhadap dirinya untuk membagikan uang kepada masyarakat merupakan kali pertama selama hidupnya.

Bahkan, kata Dudi, banyak yang menawarkan kepada dirinya untuk membagikan uang, tetapi dirinya khawatir dibodoh-bodohi oleh warga. “Takutnya uang itu diterima, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Itu yang saya khawatirkan, makanya uang itu saya kembalikan,” ujarnya dengan polos.

Menurut Dudi, ketika dirinya hendak memberikan uang kepada warga, maka dia melihat-lihat dulu karakter warganya. Sekiranya warga yang ia datangi tidak akan konsisten, maka uang tersebut dikembalikan lagi. “Uang itu bukan dari AR langsung, sepertinya dari relawan,” paparnya.

Dudi berpendapat, uang yang dititipkan kepadanya tidak mungkin dari AR langsung. Dudi kembali mengaku bahwa uang tersebut ditolaknya, karena suara yang diharapkan khawatir tidak sesuai harapan.

“Sebanyak 61 amplop saya kembalikan lagi. Saya pun sempat membuka isi amplop tersebut isinya Rp 25.000 an. Amanatnya minta tolong mencoblos AR. Tidak mungkin uang itu dari AR, karena pasti yang bersangkutan ingin bersih,” ucapnya.

Dudi dalam kesempatan itu meminta wartawan untuk menemui Ujang Rusmana ke Desa Cinta Karya. Pada saat itu juga, Dudi menyebut bahwa dirinya mendengar bahwa yang membagi-bagikan uang bukan hanya dari pihak AR saja. “Bukan dari satu orang saja, banyak sekali,” tandasnya.

Dudi mengaku takut dengan tanggung jawabnya membagi-bagikan uang kepada warga. Ia khawatir suara yang digadang-gadang tidak sesuai dengan sebenarnya. Selain itu, Dudi mengaku takut ada pihak-pihak yang memfitnahnya.

“Iya ibu Ening itu istri saya. Datangi dulu ke Pasir, kebetulan dia (ujang Rusmana,red) adik saya,” katanya lagi.

Dudi juga mengatakan, dirinya juga sempat mempertanyakan kepada Ujang Rusmana, apa maksud dari uang yang dititipkan kepadanya. Dan Ujang Rusmana mengaku kepada Dudi, bahwa uang tersebut bukan dari AR tapi dari relawan.

“Awas kita menyalurkan uang yang besarannya senilai ini, kemudian yang diberi itu musuh dari itu (AR,red), tidak sedikit banyak orang membuang kebencian. Saat inimah sangat ngilu. Apalagi di televisi rame terus,” paparnya.

Dudi menambahkan, media jangan terlalu percaya begitu saja dengan informasi yang berkembang, karena setiap orang tidak baik semuanya. Dirinya pun mendengar setiap musim ada saja informasi seperti itu (pembagian uang,red)

Sementara itu, Ujang Rusmana yang dihubungi melalui telfon genggamnya tidak mengangkat telfon dari media. SMS dan chat melalui WA pun tidak direspon.

Sam Yulianto SH MH

Secara terpisah, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi, Partai Gerindra DPC Kabupaten Garut, Sam Yousef SH MH kepada media, Kamis (25/04/2019) di halaman Gedung Kejari Garut mengaku kecewa dengan informasi yang beredar terkait dugaan money politik dan melibatkan salah satu kadernya. Dia berharap Bawaslu bisa bertindak cepat dan tegas terhadap semua pelaku praktek money politik.

“Kami akan mempelajari kebenaran kasus yang berkembang terkait dugaan salah satu kader Gerindra yang terlibat money politik. Apabila itu terbukti, maka jelas kami sangat kecewa. Karena Partai Gerindra sejak awal sudah konsisten untuk mengikuti pertarungan politik dengan bersih dan jujur,” tandasnya.

AR yang ramai disebut-sebut sebagai oknum caleg yang diwarnai dugaan money politik sampai hari Jumat (26/04/2019) tidak mengeluarkan komentar apapun. SMS dan Chat melalui media jejaring WhatsApp yang disampaikan media ini belum dijawab. (Asep Ahmad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sidang Sengketa Pilpres, Bupati Karawang Imbau Masyarakat Hargai Keputusan MK

KARAWANG– Bupati Karawang dr. Hj.Cellica Nurrachadiana meminta agar warga Karawang untuk tidak datang ke Kantor ...