Ini Tuntan Aksi Mahasiswa HMI di Gedung DPRD Karawang

KARAWANG – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Karawang melakukan aksi unjukrasa ke gedung DPRD Kabupaten Karawang, Jumat 24 Mei 2019.

Mahasisa dari berbagai Universitas dan Perguruan Tinggi se Karawang ini membawa panji-panji aksinya untuk menyampaikan aspirasi mereka di gedung wakil rakyat Kota Pangkal Perjuangan.

Meski terik matahari dan berpuasa, namun tidak mengurangi semangat aktivisi mahasiswa itu. Mereka membawa pengeras suara untuk menyampaikan aspirasinya.

Puluhan meter jalan kaki demi menuju gedung putih dengan membawa spanduk dan bendera yang berlambangkan HMI serta bergantian melakukan orasi.

Fajarudin, Ketua Umum HMI Cabang Karawang, melalui rilisnya menyampaikan tuntutan aksi iti adalah HMI berbelasungkawa atas meninggalnya manusia yang meninggal di Pemilu 2019 dan aksi kedaulatan rakyat.

“Pesta Demokrasi yang kerap dimaknai sebagai pesta rakyat. Namun masih menyisakan duka yang mendalam. Meninggalnya kelompok penyelenggara pemilu pada serentak 2019 merupakan tragedi yang sangat memilukan sepanjang sejarah perjalanan demokrasi di Indonesia,” kata Fajar.

Lanjutnya, sekelumit permasalahan tersebut tak kunjung-kunjung usai bahkan tidak resolusi dari Pemerintah Indonesia terkait untuk menentaskan masalah tersebut. Ini merupakan bentuk penyesalan bagi para kader HMI mengingat mereka gugur dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab atas demokrasi.

Penghargaan dan rasa hormat yang setinggi-tingginya patut diberikan kepada mereka pejuang demokrasi 2019. Setelah pemilu 2019, aksi yang merenggut korban nyawa kembali terjadi.

“Munculnya aksi kedaulatan rakyat sebagai gerakan sosial serupa dengan people power 1998 yang berkobar di Jakarta, 21-23 Mei 2019 (disinyalir akan semakin lama). Gerakan tersebut dilandasi oleh rasa ketidakpuasan dan dugaan ada banyaknya kejanggalan/kecurangan KPU dalam menyelenggarakan pemilu serentak 2019,” kata dia lagi.

Aksi yang pada awalnya diagendakan damai berujung pada kerusuhan antara pihak keamanan dan demonstran, sehingga menimbulkan korban jiwa berjatuhan. Ini merupakan bentuk gimmick yang dimainkan oleh elit politik yang menggunakan diksi-diksi oplichting (kata-kata penuh siasat untuk meraup keuntungan bagi kelompok atau golongannya) untuk membangun perpecahan di Indonesia pasca pemilu serentak 2019.

Pemilu serentak 2019 telah usai akan tetapi fenomena yang memilukan secara mendalam, terutama masalah kemanusiaan harus segera diusut dan dievaluasi oleh Pemerintah Indonesia agar tidak terulang kembali di pemilu yang akan datang.

“Maka kami kader Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Karawang menyatakan sikap berupa tuntutan Mendorong Kabid Propam dan Kompolnas untuk mengivestigasi dan menindak tegas pelaku tindakan represif pada aksi tanggal 21-22 Mei 2019,” jelasnya.

Kemudian, mendorong presiden agar memberhentikan menkopolhukam dan Kapolri. Mendorong pemerintah supaya melakukan evaluasi sistem pemilu 2019. Mengajak seluruh elemen bangsa dalam menjaga kesatuan dan persatuan NKRI.

“Dengan lahirnya tuntutan dari kami. Maka, kami berharap dapat memberikan sedikit pencerahan atas permasalahan konflik horizontal dan vertikal yang sedang terjadi di nergri tercinta ini, Indonesia,” pungkasnya.(cim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Beralasan Ada PKL Anggaran Pembangunan Trotoar Tidak Terserap?

KARAWANG – Ketua komisi III DPRD Karawang, Elivia mengaku akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Dinas ...