Kita Pahlawan Masa Kini

KARAWANG – Pemandangan berbeda mulai nampak diperlihatkan oleh sekelompok pemuda lintas generasi yang berasal dari daerah Rengasdengklok, Kabupaten Karawang dalam momentum peringatan hari pahlawan Nasional, 10 November 2019 di gedung bersejarah bekas Kantor Kewedanaan pada masa Penjajahan.

Kali ini, peringatan hari pahlawan menjadi momentum awal bagi belasan pemuda menelusuri jejak-jejak rahasia sejarah Bung Karno bersembunyi di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, “Kami hari ini berkumpul untuk diskusi tentang sejarah yang hilang dari kehadiran Bung Karno ke Rengasdengklok. Terutama, menelusuri jejak sejarah peranan pemuda peta selaku pejuang dari Rengasdengklok bernama Kapten Masrin yang luput dari buku sejarah daerah Karawang. Karena gerakan Kapten Masrin lebih bersifat rahasia, untuk menyembunyikan Bung Karno dari Tentara Jepang, kini kami coba untuk menggali jejak jejak yang hilang itu,” jelas pemuda dari Rengasdengklok, Lili Ghozali.

Sementara, Agus Ginanjar, S.H, sebagai unsur Pemuda Rengasdengklok mengklaim memiliki ketertarikan tersendiri tentang nama Kapten Marsin sejak didengungkan oleh saudara Ke 6 dari 11 keturunan Kapten Masrin, Cece Wikana, karena diceritakan secara turun temurun dari keluarga pertama Kapten Masrin hingga kini diketahui publik dari mulut ke mulut pemuda Rengasdengklok sudah diwariskan pada keturunan ke 6 yang diwakili oleh Cece Wikana, katanya, Kapten Masrin yang kokon dikenal sebagai Kepala Desa pada saat itu justru memiliki peranan yang lebih jelas untuk dinobatkan sebagai Pejuang pemuda tanah air menyembunyikan bung karno di Rengasdengklok ketimbang sejarah tentang rumah Djaw Kie Siong.

“Sebab itu setelah kegiatan bersih bersih area sekitar gedung bersejarah, melukis foto Kapten Masrin di lokasi bekas kantor kawedanaan juga dibuka diskusi terbuka mengundang sejarawan, salah satunya Asep Sunda Pura,” kata Agus Ginanjar.

Hingga sore hari, seperti disimpulkan bersama para pemuda Rengasdengklok bersama pakar sejarah lokal, Asep Sunda Pura, Pengurus Karang Taruna Jawa Barat, Lili Ghozali, Ahli waris keturunan Kapten Masrin, Cece Wikana, dan Baraya Koko sebagai guru sejarah Rengasdengklok, sepakat untuk mendorong Pemkab Karawang menjadikan nama Kapten Masrin dijadikan nama jalan menuju lokasi bersejarah di Rengasdengklok.

Pendapat lainnya, Husein Sastra Galuh, juga memiliki inisiatif untuk membentuk tim kerja untuk menelusuri jejak kapten Masrin sekaligus memberikan penghargaan kepada keturunan dan keluarga besar berupa pembangunan patung kapten masrin didalam konsep pembangunan situs sejarah Rengasdengklok kedepan. (sgt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bupati Sebut Program KB di Karawang Sudah Berhasil

KARAWANG – Upaya yang dilakukan Pemkab Karawang dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak akan berdampak bila ...