Gairah Petani Milenial Memilih Kembangkan Pertanian di Kampung Halaman, Hasilnya Tembus 8,9 Ton

Jamaludin Akbar

Karawang – Jamaludin Akbar (32), pemuda milenial asal Dusun Selang I Desa Ciwaringin Kecamatan Lemahabang memilih menjadi seorang petani sawah ketimbang bekerja ke pabrik. Pria lulusan sarjana pertanian di salah satu universitas ternama di Kota Pangkal Perjuangan ini memanfaatkan ilmu akademis itu menjadi petani milenial di kampungnya. Gairah dia yang semangat dalam mengembangkan pertanian di kampung halaman.

Alhasil, cukup menggiurkan. Kini, Jamal menjadi sosok pemuda tani milenial di kampungnya, sehingga menjadi figur bagi pemuda yang lain.

Jamal bercerita, mulanya memilih menjadi seorang petani ketimbang yang lain. Di perkembangan tempat dia tinggal banyak masyarakat yang berkebun, bertani, menanam sayuran dan yang lain.

Orangtuanya seorang tani sawah. Tiap kali panen sering ikut ke sawah hingga selesai. Dari pengalaman itu ia menentukan pilihan untuk menjadi seorang petani milenial.

“Jadi seorang petani adalah pilihan. Setelah saya pertimbangkan dan analisa jadi petani itu barokah. Maka saya memilih menjadi seorang tani sawah saja,” ungkap Jamaludin, diwawancara, Sabtu (5/12/2020).

Meski ia turun mengelola sawah belum puluhan tahun, tapi ilmu yang diperoleh dimeja perkuliahan menjadi bekal bagi Jamal. Antara teori dan praktek ia sinkronkan, sehingga menghasilkan padi yang berkualitas.

“Awalnya saya bingung. Tapi ketika dilakukan praktek, ilmu perkuliahan, pengalaman dan diskusi dengan tokoh tani alhamdulillah sekarang jadi faham bercocok tanam. Hasil dikonversi setiap panen sekitar 8,9 Ton per hektar. Pernah se kampung heboh, biasanya petani memperoleh sekitar 7 sampai 8 Ton per hektar di wilayah ini. Saya tembus lebih 8 Ton,” ceritanya.

Tanaman Padi

Trik Bercocok Tanam Padi

Jamal berbagi trik dalam bercocok tanam padi. Khususnya untuk kalangan milenial yang baru turun menjadi petani muda.

Pertama memilihan benih padi. Proses pemilihan benih ini perlu kualiatas. Benih yang baik bisa kuat dari serangan hama, perkembang biakan cepat. Sehingga menghasilkan butir padi yang baik. Benih secukupnya saja sesuai dengan lahan yang digarap. Benih di tenggelamkan dalam air, benih yang tenggelam adalah benih yang bagus bukan mengapung.

“Setelah benih disiapkan, kita juga persiapan lahan yang akan di cocok tanam. Lahan pesawahan yang baik dibersihkan dari rumput-rumput. Kemudian genangan air dan tanah lembab. Setelah di bajak, diratakan, dan perlu netralitaskan dari racun paska panen,” kata Jamal.

Selanjutnya, Jaman menjelaskan tentang pembibitan padi. Pembibitan ini direndam air selama dua hari atau lebih sampai benih padi keliatan berkecambah atau akar putih. Tujuannya agar tumbuh begitu cepat di lahan tanam yang sudah disiapkan. Kemudian persiapan persemaian.

“Sambil kita proses pembibitan benih, persiapkan juga persemaian. Biasanya kita buat persegi panjang. Sudah dibentuk dengan baik, tanah lembab dan bebas dari rumput-pumput. Kita juga biasanya lahan persemaian ditutup dengan plastik seputaran persemaian,” jelasnya.

“Setelah siap benih ditaburkan dari area lahan yang sudah disiapkan. Kemudian ada pemupukuan urea secukupnya agar tumbuh subur. Dua minggu atau dua puluh hari bisa bertanam,” tambahnya.

Masih menurut Jamal. Kata dia, setelah siap tanam atau tandur dari tempat di pindahkan ke lahan pesawahan. Genggaman secara terpisah dengan jarak yang teratur. Pohon padi ditancapkan ditanah. Sebelumnya ia berikan pupuk organik untuk lahan yang akan di tandur.

Setelah 10 hari setelah tanam atau tandur diberikan memupukkan dengan pupuk urea. Pasalnya pupuk itu untuk perbanyak anak karena terangsang. Lahan juga dipupuk agar menggemurkan tanah untuk menguatkan tanaman. Pupuk urea itu sangat berpengaruh terhadap tanaman padi.

“Juga tanaman tidak stres setelah di pindahkan dari persemaian ke lahan pesawahan. Setelah padi umur 30 sampai 35 hari kita menggunakan pupuk Phonska. Kita juga pastikan pengairan bisa diatur,” ungkapnya.

Terakhir penyemprotan sebagai pencegahan hama sebelum panen. Namun, hama ini tidak bisa diprediksi bisa tikus, belalang dan sebagainya.

“Kalau saya punya keyakinan, sawah kena serangan hama anggap saja itu sedekah. Hama juga mahluk ciptaan-Nya. Jangan dibuat stres,” kata Jamal lagi.

Tanam Padi Hidroponik

Ir. Kadarisman Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kab. Karawang

Biasanya tanam padi itu membutuhkan lahan cukup luas. Lahan tanah pun harus lembab dan kondisi perairan yang cukup. Namun perkembangan zaman bisa dengan cara lain. Misalnya saja tanam padi dengan cara hidroponik. Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Karawang memanfaatkan pekarangan belakang kantornya untuk uji coba tanaman. Salah satunya tanaman padi.

Kepada Fakta Jabar, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Karawang, Ir Kadarisman mengatakan, tanam padi tidak perlu membutuhkan lahan yang sangat luas, karena sekarang ini bisa dengan cara hidroponik.

“Kita sudah uji coba tanam padi secara hidroponik. Hasilnya cukup bagus juga. Dengan hidroponik lebih menghemat lahan,” kata Kadarisman, Jumat (4/12/2020).

Sebab itu, pihaknya mencoba mensosialisasikan kepada masyarakat menanam padi hidroponik. Pihaknya juga bersedia untuk memberikan penjelasan terhadap petani yang ingin belajar tanam padi hidroponik.

“Petani yang ingin penjelasan tentang tata cara tanam hidroponik bisa ke kantor dinas. Nantinya ada petugas yang akan membimbing sekalian praktek di lahan yang sudah disiapkan dinas,” ungkapnya.

Tata cara menanam hidroponik, lanjutnya, ada perbedaan dari menanam biasanya. Akan tetapi untuk perawatan dan pemupukan hampir sama.

“Yang berbeda mungkin tempat dan prosesnya. Kita bisa bimbing petani yang mau mencoba tanam padi hidroponik,” pungkasnya.(cim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

APEKI : Semangat Kopi Karawang Menjadi Spirit Kopi Nusantara

H. Saepul Riki Ketua DPC Assosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) ...